Sejarah Kami

Pada hakekatnya Jawa Barat didominasi oleh daerah perbukitan dan pegunungan yang notabene memiliki sumber daya alam yang sangat subur dan lingkungan hidup yang kondusif baik untuk pertumbuhan berbagai macam tanaman, mulai dari tanaman pangan, sayuran, hortikultura sampai kepada tanaman perkebunan seperti kopi. Di dataran rendah priangan banyak dijumpai tanaman kopi jenis robusta sedangkan di dataran tinggi lebih didominasi oleh tanaman kopi jenis arabica. Sudah pasti kesesuaian lahan yang dibutuhkan sebagai syarat tumbuh ke dua jenis tanaman kopi tersebut menuntut terjadinya pembagian jenis pada perbedaan ketinggian tempat.

Pada tahun 2011 baru mulai diproses perlindungan untuk kopi yang di tanam di 11 gunung dengan 2 varian. Kopi yang akan didaftarkan untuk mendapatkan perlindungan indikasi geografis tersebut adalah kopi arabica yang ditanam di wilayah yang memiliki agroklimat yang sesuai untuk budidaya kopi yaitu di dataran tinggi priangan yang berada pada ketinggiaan setidaknya 1.000 m dpl. Proses panjang yang tidak mudah pun berhasil dilalui, dan membuahkan keberhasilan, indikasi geografis tersebut diperoleh pada tanggal 22 Oktober 2013 dengan nama produk “Kopi Arabica Java Preanger”. Nama produk ini diambil dari sebutan untuk kopi arabica yang dihasilkan para petani wilayah priangan, yang telah terkenal sejak lama karena memiliki rasa serta aromanya sangat spesifik dan berbeda dengan kopi-kopi jenis lain yang ada.

Abdul Sobur sebagai anak petani dari daerah Pangalengan. Orang tua dan keluarga besarnya adalah petani kentang yang cukup berhasil di daerahnya, sehingga bidang pertanian adalah bagian dari kehidupan keluarganya. Kentang dipilih karena jenis sayur tersebut menguntungkan dari sisi ekonomi dan mampu memberikan kesejahteraan bagi keluarganya. Namun ekspansi lahan perkebunan kentang di daerah bukit-bukit Pangalengan, berpotensi menimbulkan bencana lingkungan seperti erosi/tanah longsor, akibat bukit bukit tidak memiliki pohon-pohon besar yang mampu mengikat tanah, sehingga Abdul Sobur memutuskan untuk berinvestasi di perkebunan kopi yang bisa menghindari resiko bencana tersebut.

Berangkat dari kepedulian Abdul Sobur kepada para petani dan lingkungan disekitarnya, Abdul Sobur memilih kopi sebagai pilihan investasinya. Menurutnya tanaman kopi yang dilindungi dengan pohon pohon besar pelindungnya, akan menjaga kondisi tanah dari bahaya longsor, akar pohon kopi juga bisa menghujam hingga sedalam tiga meter, dan mampu memasukkan air kedalam tanah, selain itu pertanian kopi khususnya pada kategori specialty coffee sekarang ini memiliki potensi ekonomi yang cukup baik apabila dikelola dengan baik dan benar. Menurutnya, pengembangan sektor perkebunan specialty coffee di daerahnya akan membantu taraf hidup para petani yang menjadi mitra kerjanya.

Abdul Sobur memulainya dengan mengolah lahan seluas 100 hektar di kawasan gunung Wayang dan gunung Malabar Pangalengan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Area tersebut akan dijadikan perkebunan kopi Arabika, dengan target menghasilkan kopi berkualitas terbaik yang dikenal dengan istlah specialty coffee.